DAN's CONIO

SEMUA ORSNG PASTI INGIN BAHAGIA, TP INGATLAH KEBAHAGIAAN DATANG SETELAH KITA BERUSAHA DAN BERIKHTIAR

PROGRAM TURBO C

Rabu, 19 Januari 2011

CERITA SANG TEMAN

Kisah ku ini, berawal saat pacarnya terserang kanker hati,itulah penyakit yang diderita oleh pacarku. Dia, tentu saja syok dan tidak menyangka apalagi keluarganya. Maklumlah, keluarga pacarku bukanlah keluarga berada alias miskin. Sejak divonis terserang penyakit kanker hati , dia harus sudah dirawat karena sudah stadium akhir. Orang tuanya, hanya bisa pasrah menerima keadaan inidan mereka sudah merelekan jika suatu saat nanti dia dipanggil oleh sang pencipta, karena mereka sudah tidak punya biaya lagiuntuk pengobatan, mereka myerahkan semuanya padaku. tapi, aku pun sama aku tidak punya uang sebanyak itu. Dengan segala cara, aku mencari uang mulai dari tabungan pinjam ke bank, tapi semua itu tidak cukup untuk membiayai pengobatan pacarku, akupun mulai pasrah menerima keadaan ini, tapi aku belum siap untuk menerima keadaan bila pacarku diambil oleh sang pencipta. Akhirnya, dengan keadaan terpaksa kamipun akan membawa dia pulang kerumah, walaupun itu dilarang oleh dokter, tapi apa boleh buat kami sudah tidak sanggup lagi membayar biaya pengobatannya.
Keesokan harinya, saat kami bersiap-siap untuk membawa dia pulang ke rumah, tiba - tiba datang seorang laki-laki menghampiri kami, ternyata dia Abdul mantan pacar selvi, pacarku. Diapun,bercerita tentang maksud dan tujuannya menemui kami.Ternyata, tujuan dia adalah untuk membantu pengobatan ayu, tapi dengan syarat jika ayu sudah sembuh total, dia harus jadi isterinya.Mendengar paparannya, tentu saja aku tidak menerimanya dan sangat marah,sedangkan orangtuanya menyerahkan semua keputusan kepadaku.Setelah itu, aku meminta kepada Abdul untuk berfikir dulu. Kami pun membawa Ayu, pulang kerumah orangtuanya. Lusanya, aku menemui Abdul untuk memberikan keputusanku soal masalah Ayu.Sesampainya, dikantor Abdul akupun langsung memberikan keputusanku bahwa, aku bersedia jika Ayu dibawa ke singapura untuk berobat bersamanya dan akupun bersedia jika nantinya Ayu sudah sembuh diperisteri olehnya, dengan berat hati dan perasaan yang tak menentu aku berikan keputusanku itu. Abdulpun, bersedia dan besok langsung akan membawa Ayu ke singapura. Setelah selesai dari kantor Abdul, aku langsung bergegas ke rumah Ayu untuk menyampaikan kepada mereka tentang keputusanku ini. Setibanya dirumah Ayu, aku langsung saja menyampaikan maksud kedatanganku.Akupun menyampaikan bahwa, aku menerima tawaran Abdul untuk membawa Ayu ke Singapura, dan akupun menyetujui persyaratan Abdul yang menginginkan Ayu untuk menjadi isterinya jika kelak Ayu sehat kembali. Mendengar pernyataanku, Ayu langsung menolaknya dan tidak mau menjadi isteri Abdul,dia tetap tidak mau berobat ke singapura dan memilih mati, akupun terus membujuk Ayu, untuk pergi ke singapura. Dengan berbagai cara, akupun mencoba terus membujuk Ayu. Akhirnya Ayu pun mau berobat ke singapura setelah mendengar penjelasanku ini. "Ayu, jika kamu tetap tidak mau pergi berobat ke Singapura bersama Abdul, cepat ataupun lambat kamu pasti akan meninggal dan tidak mungkin akan menikah denganku dan aku pasti akan menikah dengan wanita lain. Tapi, jika kamu memilih berobat ke singapura bersama abdul, ada kemungkinan kamu akn sembuh dan bertahan untuk hidup.Persoalan jika nantinya kamu akan menikah dengan Abdul, berarti dialah jodoh kamu yang terbaik, saat ini aku tau kamu tidak mencintai Abdul tapi cinta bisa mengikuti perjalanan hidup kamu. Mulai dari sekarang aku akan belajar ikhlas dan merelakan kamu hidup dengan pria lain. Mungkin inilah pertemuan kita yang terakhir,besok Abdul akan datang dan menjemput kamu bersama orangtuamu untuk berobat ke singapura, tapi ingat aku selalu akan mencintaimu." Itulah kata-kata terakhir yang bisa aku ucapkan kepada Ayu. Akupun berpamitan kepada orangtua Ayu, mungkin saja ini pertemuan kami yang terakhir, dan akupun menyampaikan kepada Ayu dan orangtuanya bahwa besok aku tidak bisa mengantar mereka ke bandara. Akupun pamitan, dan pulang dengan membawa sejuta kesedihan karena harus merelakan wanita yang begitu dicintainya menikah dengan oranglain.
Seiring dengan kehidupan yang terus berjalan, tidak terasa 2 tahun berlalu. Selama itu pula aku tidak bisa melupakan Ayu. Tiap hari, aku bertanya-tanya apakah Ayu sehat atau sudah meninggal. Akhirnya,aku mendapat jawaban atas pertanyaanku ini,saat itu aku mau berangkat ke Bali untuk melaksanakan tugas kantorku,tanpa disengaja aku melihat Ayu sedang menggendong bayi dan sebelahnya Abdul,ternyata ayu sehat dan telah sembuh. Aku tidak berani menghampiri mereka dan aku hanya bisa memandangi wajah ayu, wanita yang dulu dan bahkan sampai saat ini aku cintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar